umpa lagi di artikel pertama di tahun
2015 di blog yang membahas tentang tips dan strategi dalam menangkap
setiap peluang usaha dan bisnis yang ada di sekitar kita. Kali ini kita
akan menyajikan kisah bisnis yang sangat inspiratif dari sebuah
perusahaan yang benar-benar di rintis dari awal dan sekarang sudah
menemukan jalannya dan cukup sukses.
1. Tidak mendapatkan pemasukan apa pun
Sebagai seorang founder, tentu Ryan tidak mendapatkan pemasukan di awal mulai merintis bisnis usaha ini. Karena pada awal berjalannya Sribu, dia tidak mendapatkan pendapatan bulanan lagi dan juga belum mendapatkan investasi. Sedangkan di saat yang bersamaan harus secara total mengurus Sribu.
2. Harus membayar gaji karyawan setiap bulan dari modal yang terbatas.
Apa pun yang terjadi, menggaji karyawan adalah hal yang wajib dilakukan oleh pemilik bisnis. Meski seorang founder memiliki modal yang terbatas, Ryan akan tetap membutuhkan bantuan karyawan untuk mengembangkan usahanya. Untungnya pada saat itu ia bisa menemukan freelancer profesional yang membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan tanpa harus menggaji per bulan.
3. Bekerja jauh lebih keras dibanding biasanya
4. Mengalami Perekrutan Karyawan yang Sulit
Pada sebuah bisnis khususnya startup, banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan menuntut pekerjanya untuk memiliki multiple skill sehingga pekerjaan yang terselesaikan akan lebih banyak. Tentu sangat sulit bagi Ryan untuk mencari karyawan dengan multiple skill yang ia butuhkan. Untuk menyiasatinya, maka ia mencoba melakukan penyeleksian pekerja secara online. Meski saat itu hanya menemukan freelancer, sangat bersyukur karena dengan menggunakan jasa freelance banyak sekali pekerjaan yang terselesaikan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya, dan akhirnya bisnis usaha berjalan dengan lebih mudah.
Dalam menjalani peluang usaha ini dan apalagi sebagai seorang founder, Ryan merasakan bahwa hanya dirinya lah yang benar-benar peduli dengan Sribu dan perkembangan karena ia telah bertaruh banyak untuk menjalankan Sribu. Sedangkan bagi para karyawan atau pun freelancer yang direkrutnya hanya akan memperdulikan sebatas hak dan kewajibannya. Terkadang situasi seperti ini terjadi dalam setiap bisnis usaha yang baru maupun sudah lama berdiri.
Perubahan dari karyawan menjadi entrepreneur yang mendirikan sebuah startup benar-benar membuka mata Ryan. Namun, hal ini tidak disesalinya karena berhasil mengembangkan Sribu. Terbukti dari Sribu yang berhasil memenangkan Sparx Up di akhir 2011, dan mendapatkan investor. Selain itu, setelah Ryan merintis Sribu selama lebih dari 3 tahun, Ryan pun mulai merintis startup barunya, www.sribulancer.co.id yang menyediakan jasa untuk mempertemukan klien dengan freelancer.
Bagaimana dengan Anda? Sudah siapkah Anda di tahun 2015 ini untuk meninggalkan zona nyaman Anda dan memanfaatkan peeluang bisnis dan berani merintis usaha sendiri seperti Ryan?
Langsung saja memalui kisah sukses bisnis yang di geluti oleh seorang
anak muda yang bernama Ryan Gondokusumo yang bisa kita simak kisahnya
dibawah ini :
Ryan Gondokusumo founder dari www.sribu.com
penyedia jasa crowdsourcing desain) ini ternyata memulai karirnya
dengan menjadi Head of Business Development di salah satu perusahaan
swasta. Selama beberapa tahun menjalani hari-harinya sebagai karyawan
swasta, ia pun memutuskan untuk memulai sebuah bisnis usaha online
startup dengan visi besar yang bisa menjadi next big thing di dunia
internet.
Dia meninggalkan pekerjaan tetapnya dan mulai menangkap peluang bisnis dan merintis usaha Sribu di tahun 2011. Sama seperti founder startup lainnya, Ryan juga merasakan berbagai kesulitan pada awal perjalanan Sribu. Pada tahun pertama berdirinya, Sribu tidak langsung sukses karena ada banyak tantangan yang harus dihadapi.
Banyaknya hal yang harus diselesaikan pada awal mengembangkan startup, merasakan sulitnya mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Tak heran jika yang dirasakan transition shock ketika mengubah haluannya untuk menjadi seorang entrepreneur. Inilah 5 hal yang Ryan rasakan saat memutuskan menjadi seorang entrepreneur:
Dia meninggalkan pekerjaan tetapnya dan mulai menangkap peluang bisnis dan merintis usaha Sribu di tahun 2011. Sama seperti founder startup lainnya, Ryan juga merasakan berbagai kesulitan pada awal perjalanan Sribu. Pada tahun pertama berdirinya, Sribu tidak langsung sukses karena ada banyak tantangan yang harus dihadapi.
Banyaknya hal yang harus diselesaikan pada awal mengembangkan startup, merasakan sulitnya mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Tak heran jika yang dirasakan transition shock ketika mengubah haluannya untuk menjadi seorang entrepreneur. Inilah 5 hal yang Ryan rasakan saat memutuskan menjadi seorang entrepreneur:
1. Tidak mendapatkan pemasukan apa pun
Sebagai seorang founder, tentu Ryan tidak mendapatkan pemasukan di awal mulai merintis bisnis usaha ini. Karena pada awal berjalannya Sribu, dia tidak mendapatkan pendapatan bulanan lagi dan juga belum mendapatkan investasi. Sedangkan di saat yang bersamaan harus secara total mengurus Sribu.
2. Harus membayar gaji karyawan setiap bulan dari modal yang terbatas.
Apa pun yang terjadi, menggaji karyawan adalah hal yang wajib dilakukan oleh pemilik bisnis. Meski seorang founder memiliki modal yang terbatas, Ryan akan tetap membutuhkan bantuan karyawan untuk mengembangkan usahanya. Untungnya pada saat itu ia bisa menemukan freelancer profesional yang membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan tanpa harus menggaji per bulan.
3. Bekerja jauh lebih keras dibanding biasanya
Banyak orang mengira dalam berbisnis usaha menjadi pemimpin perusahaan
adalah hal yang menyenangkan. Namun, itu semua tidak terbukti. Sewaktu
menjadi karyawan, Ryan bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Namun,
begitu menjadi seorang entrepreneur, dia harus terus bekerja dan
memutar otak terus menerus agar bisnisnya bisa berkembang lebih cepat.
4. Mengalami Perekrutan Karyawan yang Sulit
Pada sebuah bisnis khususnya startup, banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan menuntut pekerjanya untuk memiliki multiple skill sehingga pekerjaan yang terselesaikan akan lebih banyak. Tentu sangat sulit bagi Ryan untuk mencari karyawan dengan multiple skill yang ia butuhkan. Untuk menyiasatinya, maka ia mencoba melakukan penyeleksian pekerja secara online. Meski saat itu hanya menemukan freelancer, sangat bersyukur karena dengan menggunakan jasa freelance banyak sekali pekerjaan yang terselesaikan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya, dan akhirnya bisnis usaha berjalan dengan lebih mudah.
5. Tidak ada yang peduli dengan usaha yang dirintis
Dalam menjalani peluang usaha ini dan apalagi sebagai seorang founder, Ryan merasakan bahwa hanya dirinya lah yang benar-benar peduli dengan Sribu dan perkembangan karena ia telah bertaruh banyak untuk menjalankan Sribu. Sedangkan bagi para karyawan atau pun freelancer yang direkrutnya hanya akan memperdulikan sebatas hak dan kewajibannya. Terkadang situasi seperti ini terjadi dalam setiap bisnis usaha yang baru maupun sudah lama berdiri.
Perubahan dari karyawan menjadi entrepreneur yang mendirikan sebuah startup benar-benar membuka mata Ryan. Namun, hal ini tidak disesalinya karena berhasil mengembangkan Sribu. Terbukti dari Sribu yang berhasil memenangkan Sparx Up di akhir 2011, dan mendapatkan investor. Selain itu, setelah Ryan merintis Sribu selama lebih dari 3 tahun, Ryan pun mulai merintis startup barunya, www.sribulancer.co.id yang menyediakan jasa untuk mempertemukan klien dengan freelancer.
Bagaimana dengan Anda? Sudah siapkah Anda di tahun 2015 ini untuk meninggalkan zona nyaman Anda dan memanfaatkan peeluang bisnis dan berani merintis usaha sendiri seperti Ryan?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar